Pulau Curiak, yang terletak di Sungai Barito, Kalimantan Selatan, kini menjadi rumah bagi salah satu primata endemik yang sangat dilindungi, yaitu bekantan. Keberadaan bekantan di pulau ini tidak terlepas dari upaya konservasi yang dilakukan oleh berbagai pihak. Salah satunya adalah Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), yang telah bekerja keras untuk menjaga kelangsungan hidup spesies ini. Mari kita kenali lebih dalam tentang upaya konservasi bekantan di Pulau Curiak dan peran penting yang dimainkan oleh para penjaga satwa tersebut.
Awal Mula Konservasi Bekantan di Pulau Curiak
Pulau Curiak menjadi rumah bagi bekantan berkat adanya upaya konservasi yang dimulai pada 2015. Saat itu, populasi bekantan di Pulau Curiak sangat terancam. Hanya ada sekitar 14 individu yang tersisa, dan ancaman terhadap habitat alami mereka semakin besar. Untuk itu, Amalia Rezeki, yang lebih akrab disapa Amel, bersama tim Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), memulai inisiatif pelestarian spesies ini.
Penanaman Pohon Rambai untuk Pakan Bekantan
Salah satu langkah pertama yang diambil oleh tim SBI adalah menanam kembali pohon rambai di sekitar Pulau Curiak. Rambai adalah salah satu sumber pakan utama bekantan. Dengan penanaman pohon rambai, tim konservasi berharap bisa menyediakan makanan yang cukup bagi populasi bekantan. Selain itu, mereka juga menanam pohon-pohon lain yang penting bagi kelangsungan hidup berbagai spesies fauna di pulau tersebut.
Pembentukan Greenbelt sebagai Kawasan Penyangga
Upaya konservasi tidak hanya berhenti pada penanaman pohon. Salah satu langkah penting yang diambil adalah pembentukan greenbelt, yaitu kawasan penyangga yang mengelilingi habitat bekantan. Greenbelt ini berfungsi untuk melindungi hutan alami dari ancaman deforestasi atau perubahan fungsi lahan yang tidak terkendali. Dengan keberadaan greenbelt, diharapkan kawasan bekantan dapat terlindungi dengan lebih baik.
Perkembangan Populasi Bekantan di Pulau Curiak
Berkat upaya yang konsisten dan tidak kenal lelah, populasi bekantan di Pulau Curiak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dari hanya 14 individu pada tahun 2015, populasi bekantan di pulau ini terus meningkat. Pada tahun 2022, jumlah bekantan di Pulau Curiak tercatat mencapai 42 individu. Angka ini merupakan prestasi luar biasa bagi tim konservasi yang telah bekerja keras untuk menjaga kelangsungan hidup primata endemik ini.
Kelahiran Bayi Bekantan di Luar Kawasan Konservasi
Salah satu pencapaian terbesar yang diraih oleh tim SBI adalah kelahiran bayi bekantan di luar kawasan konservasi. Bayi bekantan yang lahir ini menandakan bahwa populasi bekantan di Pulau Curiak tidak hanya berkembang, tetapi juga mampu beradaptasi dan berkembang biak dengan baik di habitat alami mereka. Kelahiran bayi bekantan ini memberikan harapan baru bagi keberlanjutan spesies yang semakin langka ini.
Bekantan Sebagai Indikator Kesehatan Ekosistem
Bekantan sering dianggap sebagai indikator kesehatan ekosistem. Kehidupan mereka sangat bergantung pada kelestarian hutan mangrove dan ekosistem pesisir. Dengan meningkatnya populasi bekantan di Pulau Curiak, ini menunjukkan bahwa ekosistem di sekitar pulau tersebut juga sehat dan mendukung kelangsungan hidup berbagai spesies lainnya.
Pulau Curiak dan Pengakuan dalam Geopark Meratus
Selain berfungsi sebagai pusat konservasi bekantan, Pulau Curiak kini menjadi bagian dari Geopark Meratus. Keberadaan pulau ini dalam geopark memberikan pengakuan terhadap pentingnya Pulau Curiak dalam hal konservasi alam dan edukasi lingkungan.
Menjadi Destinasi Edukasi dan Wisata Alam
Pulau Curiak kini tidak hanya menjadi tempat perlindungan bagi bekantan, tetapi juga menjadi destinasi edukasi dan wisata alam. Banyak pengunjung yang datang untuk mempelajari kehidupan bekantan dan bagaimana upaya konservasi dilakukan di pulau ini. Dengan fasilitas seperti stasiun riset bekantan, para ilmuwan dan pengunjung dapat belajar lebih banyak tentang spesies ini serta pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Peran Stasiun Riset Bekantan
Stasiun riset bekantan di Pulau Curiak berfungsi sebagai pusat penelitian tentang bekantan dan habitat alaminya. Penelitian yang dilakukan di stasiun ini memberikan informasi penting yang berguna bagi upaya konservasi lebih lanjut. Selain itu, stasiun ini juga menjadi tempat edukasi bagi masyarakat dan pelajar yang tertarik untuk belajar tentang pentingnya menjaga keberagaman hayati.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meskipun telah banyak pencapaian yang diraih dalam konservasi bekantan di Curiak, tantangan yang dihadapi belum sepenuhnya selesai. Salah satu tantangan terbesar adalah ancaman terhadap habitat alami bekantan yang terus berkurang akibat alih fungsi lahan. Deforestasi dan konversi hutan menjadi lahan pertanian atau perkebunan masih menjadi masalah yang harus dihadapi.
Perlunya Kolaborasi Lebih Lanjut
Untuk mengatasi tantangan ini, kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, masyarakat lokal, dan organisasi konservasi sangat diperlukan. Melalui kerjasama yang lebih baik, diharapkan upaya pelestarian bekantan dan habitatnya dapat terus berlanjut.
Kesadaran Masyarakat Tentang Konservasi
Penting juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi dan perlindungan satwa liar. Edukasi mengenai peran bekantan dalam ekosistem dan manfaat konservasi bagi kehidupan manusia perlu diperluas.
Upaya konservasi bekantan di Curiak telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Meskipun masih menghadapi berbagai tantangan, tim Sahabat Bekantan Indonesia terus bekerja keras untuk melindungi spesies ini. Dengan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan keberhasilan konservasi bekantan di Curiak dapat menjadi contoh bagi upaya pelestarian satwa liar lainnya di Indonesia.